Melaporkan Warga Negara Asing Yang Menginap di DI. Yogyakarta, Kini Cukup Dengan Scan QR Code

Sleman, Yogyakarta Kamis (10/6) Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta menggelar Sosialisasi APOA ( Aplikasi Pelaporan Orang Asing) berbasis QR Code di Aula Kantor Imigrasi Yogyakarta. Melalui Aplikasi ini, hotel dan penginapan akan lebih mudah dalam melaporkan keberadaan orang asing di wilayah DI. Yogyakarta.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta, Andry Indrady mengatakan sistem pelaporan APOA berbasis QR Code ini sudah diterapkan dan berlaku secara nasional. Sistem ini membantu dan mempermudah pelaku usaha hotel dan penginapan untuk melaporkan keberadaan orang asing yang menginap ditempatnya. Jika dulu petugas hotel melakukan input data berbasis web, maka saat ini proses tersebut akan jauh lebih mudah, pihak hotel cukup melakukan scan QR Code yang sudah ada di paspor yang dibawa oleh orang asing tersebut.

“Dulu kan hanya menggunakan cap di paspor, sekarang cap tersebut diubah dengan sticker yang ada QR code, dan QR code tersebut yang akan discan oleh pihak hotel dan penginapan ketika Warga Negara Asing itu tiba di Indonesia”, ujar Andry.

Ketika petugas melakukan scan maka otomatis data orang asing tersebut akan langsung terdeteksi oleh sistem sehingga petugas hotel tidak perlu lagi menginput data secara manual sehingga data akan lebih cepat dan akurat dalam melaporkan keberadaan orang asing.

Petugas hotel atau penginapan cukup download aplikasi ini di playstore dan pihak hotel akan mendapat kode akses oleh petugas imigrasi agar dapat masuk ke dalam aplikasi tersebut, kedepan sistem ini tidak hanya dilakukan oleh pihak hotel namun dapat juga untuk home stay, losmen atau kos-kosan juga wajib melaporkan keberadaan orang asing yang menginap. “kedepan aka nada perluasan kewajiban pelaporan , sepanjang ada orang asing yang menginap harus dilaporkan keberadaannya melalui aplikasi APOA” lanjut Andry.

Sementara itu, Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DI. Yogyakarta, Yayan Indriana mengatakan pelaporan orang asing berbasis QR Code mempermudah pendataan tidak hanya kepada pemerintah tetapi juga pemilik penginapan. “ini merupakan terobosan baru bagaimana pergerakan orang asing itu mudah terdeteksi, dengan adanya sistem ini maka pergerakan orang asing akan lebih terpantau secara cepat dan valid selain itu berguna jika suatu saat ada orang asing melakukan tindak kejahatan di Indonesia, mereka akan mudah terlacak keberadaannya”, katanya.

Mengingat betapa pentingnya melakukan pendataan keberadaan orang asing di Indonesia, ia pun menyatakan bahwa seluruh pengelola hotel dan penginapan wajib memberikan laporannya, jika tidak melakukan pelaporan maka ada sanksi yang diberikan sesuai Undang-undang Keimigrasian.

“Ada pasalnya, ada sanksi hukumnya bagi penginapan yang diminta data orang asing tetapi tidak melakukannya, kami akan tegas dan akan terus memberikan sosialisasi untuk menegakkan aturan ini, jangan lihat orang asing dari sisi bisnis saja tapi ada kewajiban moral yang harus kita lakukan sehingga dapat menyelamatkan negara dari tindakan yang tidak diinginkan”, ujar Yayan.

Maka dari itu ini merupakan sebuah jawaban agar semua pihak dapat lebih berpartisipasi aktif, dan lebih mudah dalam entri data ketika ada orang asing yang menginap.